Selasa, 09 Agustus 2016

The Future's Not Ours to See, Hanum


Dulu, aku sempat bersedih, putus asa, menangis sejadi-jadinya mengingat apa yang anak-anak kami alami. Berat memang, saat memandang jauh ke depan, tentang hidupnya kelak. Aku berpikir tentang dana, tentang rasa malu, tentang semuanya.

Tapi sekarang...

Kamis, 28 Juli 2016

Kisah Sedih (Tentang Hanum) di Hari Minggu


Lebaran adalah momen spesial untukku. Kalo hari-hari biasa, jarang bisa ngumpul sama keluarga, teman, dan sahabat. Tapi saat lebaran tiba, keluarga besar berkumpul, tetangga saling bersalaman, teman-teman lama reuni, murid-murid datang berkunjung (pengalaman saat menjadi guru). Lebaran tahun ini pun hampir sama dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Tapi lebaran 2 tahun terakhir lebih spesial dengan hadirnya Hanum, walau tanpa kunjungan murid :(

Saat lebaran tiba, banyak yang memanfaatkannya untuk saling bersilaturrahmi dan maaf memaafkan. Aku pun demikian. Jadi, saat lebaran kemarin, kami sekeluarga mudik ke Pati (baru kali ini kami mudik lebaran, dulu paling dolan Pati-Jepara). Telfon travel rata-rata udah penuh. Tapi Alhamdulillah masih mendapat travel di H-2 lebaran.

Tiba-tiba…

Jumat, 01 Juli 2016

Medis, Pengobatan Alternatif, atau herbal?

Ulasan berikut ini versi aku, ya, jadi cuma sekadar sharing dari orang bodoh ini. Cmiiw.

Sebelum menikah, tiap kali sakit flu atau pusing, aku biarin aja sampe hilang sendiri sakitnya. Nggak suka minum obat-obatan. Kalo sakitnya kayak diare, aku makan pucuk daun jambu biji aja. Seringnya sih sembuh.  Tapi kalo udah maem pucuk daun jambu biji dan nggak sembuh, ya mau nggak mau minum obat dari bidan/dokter. Nggak enak juga kalo diare terus. Lemes.
sumber : http://www.alodokter.com/sehat-berkat-tahu-cara-membuat-minyak-kelapa-sendiri

Saat hamil anak pertama, disuruh minum minyak kelapa, aku minum aja sih. Kalo kata orang tua biar gampang saat melahirkan. Tapi kenyataannya beda, hehehe. Disuruh minum air rumput Fatimah, aku minum juga. Katanya sih biar nggak sakit pas bersalin. Tapi bukan melahirkan namanya kalo nggak ngerasain sakit. Aku tuh suka sayuran, tapi pas hamil sayuran rasanya jadi aneh, hahaha. Hamil kedua, tanpa minum minyak-minyakan, tanpa rumput Fatimah dan sebagainya. Alhamdulillah lancar persalinan kedua.

Anak Istimewa di Daerah Istimewa

Tepat seminggu yang lalu, kami mendarat di Jogja. Saat naik pesawat dari Bengkulu ke Jakarta, penumpangnya banyak yang berbahasa Sumatra. Naik pesawat kedua dari Jakarta ke Yogyakarta, rata-rata memakai bahasa Jawa. Jadi kerasa banget Bhinneka Tunggal Ikanya, hihihi. Walau udah beberapa kali naik pesawat, tetep aja kalo take off dan landing terasa mual. Katrok banget, yo? Hahaha… eh sempet foto-foto juga saat di Bandara. *abaikan bundanya Hanum yang 'ndut ya, anggep aja langsing gitu, hahahaha.



Kami berangkat ke Jogja emang modal nekad. Sama sekali nggak ada saudara. Dengan pertolongan orang-orang yang baik hati, akhirnya kami sampai di sini. Siapa aja orangnya?

Selasa, 21 Juni 2016

Aku Bangga Memiliki ABK

ABK (Anak berkebutuhan Khusus) sering juga disebut anak istimewa, anak spesial, bahkan ada juga yang menyebut anak cacat. Ah, apapun sebutannya, aku bangga memilikinya. Ya, dong bangga. Memang sih, saat dulu awal-awal menyadari keterlambatan perkembangan Hanum, aku sempet down. Kemana-mana selalu merasa jadi pusat perhatian. Perasaan menjadi lebih sensitif. Lihat orang memandangi Hanum dengan aneh, langsung melotot sambil ngomel, “ Heh! Ngapain sih liat-liat! Nantang? Ngajakin berantem?” dalam hati tapi ngomelnya, hahaha. apalagi kalo ada teman bertanya, “Anaknya udah bisa apa?” Hadewhhh… pikiran su’udzon langsung muncul. “Ngapain sih tanya-tanya. Sombong banget mentang-mentang anaknya udah bisa macem-macem!” Ya, begitulah. Aku sulit mengendalikan emosi. Padahal pertanyaan seperti itu sangat wajar, kan? Aku juga sering nanyain itu sama teman-teman yang punya bayi. Tapi ya itu tadi, perasaanku menjadi sangat sensitif, melebihi PMS pokoknya.